Pendapat Koran Tempo
BURGER BATOK PADUAN LOKAL DAN BARAT
Burger Batok. Kata burger identik dengan makanan Barat, dan batok merupakan bahan untuk membuat perkakas yang biasa dipakai masyarakat Jawa. Biasa, tetapi keanehan itulah yang membuat lidah saya bergoyang untuk mencicipi lebih dalam menu makanan di Waroeng Taman, Jalan Swadaya, Kalimalang, Bekasi, akhir Februari lalu.
Tempatnya tidak terlalu besar. Gambar pementasan kuda lumping menghiasi dinding. Beberapa sofa dari bambu melengkapi ruangan. Suara hiruk-pikuk mobil tergilas gemericik kincir air, ditingkahi lagu campur sari.
Lembaran menu sudah meledek mata, dengan burger batok sebagai sajian utama di antara pilihan lain seperti Mie Bludak dan Opak Keputren. Untuk ”pelicinnya”, saya pilih Banyu Biru karena kesengsem oleh warnanya yang menarik. Sebagai pilihan kedua, saya pilih Bir Pletok karena keunikan namanya. Menunggu semuanya tersaji, saya penasaran untuk menilik ke dapur. Dua tangkep roti, daging sapi giling, tomat, mentimun, mayonnaise, saus, bumbu barbeque olahan sendiri, dan keju parut bertumpuk menjadi satu. Itu biasa saja. Yang unik, Burger Batok ternyata dimasak menggunakan sebuah batok, lalu dimasukkan ke oven dan dimasak 30 detik.
Dihidangkan panas beserta batok membuat panas burger lebih tahan lama. Selain itu, saat saya mencobanya, terhiruplah aroma wangi sangit khas batok yang menempel pada kulit roti. Kenikmatan rasa terpadu gurih, terutama pada gigitan dagingnya yang diolah sendiri oleh si pemilik.
Setelah melahap burger itu, Mie Bludak terhidang. Kata “bludak” artinya tumpah, walaupun tampilannya tidak mbludak. Mi, jamur, sawi, cheese stick, dan dua potong sayap ayam yang dibakar memenuhi mangkuk yang juga terbuat dari batok. Rasa manis terasa pada kuah hangat, dan rasa gurih pada saat gigitan sayap ayam. Dan “kletusss!”, cheese stick larut menjadi satu di dalam mulut.
Rasa penasaran akan terhapus apabila Bir Pletok dan Banyu Biru sudah dinikmati. Bir Pletok, minuman asal Tanah Betawi, terbuat dari jahe merah panas. Minum bir pletok tidak akan mendapatkan rasa panas, tapi rasa segar dari jahe, gula merah, dan es krim vanila yang bertabur “meises” (butiran cokelat). Dilihat dari segi bahan yang sepertinya bertolak belakang, lidah ini dibuat bingung dengan paduan kenikmatan. Jahe yang hangat dengan es krim vanila dingin.
Opak Keputren menjadi menu terakhir. Opak merupakan makanan tradisional Jawa, terbuat dari beras yang mengering. Keputren artinya tempat putri-putri raja Jawa. Sempat terlintas dalam bayangan, makanan ini mirip tortilla, yang berbahan dasar jagung asal Meksiko. Tapi Opak Keputren berasal dari beras, dan di atasnya ditaburi daging hotdog cincang dan keju mozzarella. Sayang, rasa pedas dari saus sangat jauh dari arti kata keputren.
Rasa pedas ini yang membuat saya segera meneguk Banyu Biru. Warna biru itu berasal dari minuman bersoda, ditambah leci dan, seperti biasa, es krim vanila. Minuman ini melenyapkan rasa panas di mulut akibat Opak Keputren tadi.
Ide Burger Batok berawal saat pemilik, Indriasari, 31 tahun, bersama suami mudik ke Yogyakarta. Melihat toko yang menjual batok kelapa, mereka berpikir batok bisa dijadikan wadah hamburger. Ia dan suami pun mencoba-coba.
Indriasari akhirnya keluar dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan farmasi. Bermodalkan Rp 70 juta, bersama suami ia membuka Burger Batok pada 7 Maret 2008. “Di hari biasa, keuntungan Rp 500 ribu,” kata Indriasari. ”Pada akhir pekan bisa mencapai Rp 1 juta. Kini ia memiliki dua gerai. Selain di Kalimalang, Indriasari membuka Burger Batok di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang. Satu lagi di Surabaya, tetapi waralaba. Memadukan rasa muatan lokal dengan Barat mungkin sebuah hal yang sulit. Tapi, di Burger Batok, semuanya hampir terwujud. SANTIRTA TEMPO
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/01/Kuliner/index.html
Menikmati Bir Pletok dan Banyu Biru menghapus rasa penarasan. Minggu, 1 Maret 2009
|